KERAJINAN TANGAN 'MAHAMBIT' TETAP LESTARI DI DESA SETIAP
- Nov 21, 2025
- KIM DESA SETIAP
Kerajinan tangan tradisional 'mahambit', seni menganyam atap rumah dari daun rumbia, tetap lestari di Desa Setiap, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Di tengah gempuran bahan bangunan modern, kerajinan warisan budaya Banjar ini terus dipertahankan oleh para pengrajin lokal, tidak hanya sebagai mata pencaharian tetapi juga sebagai identitas budaya yang berharga.
Aktivitas "mahambit" atau "meanyam atap" telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Setiap selama turun-temurun. Para pengrajin, yang kebanyakan adalah ibu-ibu, dengan terampil menganyam helai demi helai daun rumbia kering menjadi lembaran atap yang kuat dan tahan lama.
Menjaga Warisan di Era Modernisasi
Meskipun atap seng dan genteng semakin mendominasi pembangunan rumah, atap rumbia hasil kerajinan mahambit masih banyak diminati untuk bangunan tradisional, pondok di kebun, atau bahkan sebagai elemen dekoratif di tempat-tempat wisata bernuansa etnik. Hal ini menunjukkan bahwa produk kriya lokal masih memiliki tempat di pasar, berkat nilai seni dan nuansa alami yang ditawarkannya.
Salah satu pengrajin, Ibu HIMLAH , mengungkapkan bahwa dia telah menekuni kerajinan mahambit sejak remaja, belajar dari orang tuanya. "Ini sudah menjadi keahlian turun-temurun di desa kami. Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kami juga menjualnya untuk menambah penghasilan," ujarnya.
Kelestarian kerajinan mahambit di Desa Setiap menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat terus hidup dan beradaptasi di tengah perubahan zaman, menjaga hubungan erat antara masyarakat dengan warisan leluhur mereka.