SOLIDARITAS WARGA DI TENGAH DUKA: TRADISI GOTONG ROYONG 'BATUNGKIH KAYU' TETAP LESTARI DI DESA SETIAP
- Nov 19, 2025
- KIM DESA SETIAP
Selasa Tanggal Delapan Belas Nopember Tahun 2025, Di tengah modernisasi zaman, tradisi luhur gotong royong masih mengakar kuat di Desa Setiap khususnya dalam menghadapi musibah kematian. Salah satu tradisi yang khas dan masih dijaga erat oleh masyarakat di Desa Setiap, adalah "Batungkih Kayu".
Tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di antara warga.
Apa Itu 'Batungkih Kayu'?
Secara harfiah, "batungkih kayu" berarti mengumpulkan atau mencari kayu bakar secara beramai-ramai. Tradisi ini umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki di desa setempat saat salah satu warga meninggal dunia. Kayu bakar yang dikumpulkan tersebut bukanlah untuk keperluan pribadi, melainkan untuk membantu keluarga duka dalam mempersiapkan berbagai keperluan, terutama untuk memasak air dan hidangan bagi para pelayat yang datang selama prosesi adat dan pengajian di rumah duka.
Simbol Solidaritas yang Menguatkan
Lebih dari sekadar mencari kayu, tradisi "batungkih kayu" adalah simbol nyata dari solidaritas dan bantuan tanpa pamrih. Ketika musibah datang, beban keluarga yang ditinggalkan menjadi sangat berat, baik secara emosional maupun finansial. Melalui gotong royong ini, masyarakat menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi duka.
"Ini adalah adat kami turun temurun. Kalau ada orang meninggal, kami pasti 'batungkih kayu' untuk membantu keluarga," ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat. "Ini cara kami meringankan beban mereka yang sedang berduka".
Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini, seperti kebersamaan, toleransi, dan keikhlasan, menjadi pengingat penting akan pentingnya saling peduli dalam kehidupan bertetangga. Tradisi "batungkih kayu" membuktikan bahwa semangat gotong royong masih hidup dan menjadi pilar penting dalam struktur sosial masyarakat di Desa Setiap Kecamatan Pandawan Kab Hulu Sungai Tengah